Jumat, 04 Desember 2009

ArTy CinTa

Cinta Menurut Pandangan Para Ahli
AHLI MATEMATIKA
Cinta adalah suatu situasi dimana 1+1 bisa sama dengan 3, 4, 5 dan seterusnya…

AHLI FISIKA
Cinta adalah gaya tarik menarik antara dua manusia berlainan jenis (cowok & cewek) yang besarnya berbanding lurus dengan berat badan masing-masing dan berbanding terbalik dengan kuadrat jarak rumah keduanya.

AHLI KIMIA
Cinta terbentuk dari beberapa unsur yaitu P (Pandangan), Se (Senyuman), Li (Lirikan), Be (Belaian), Ra (Rayuan & Rabaan), Cu (ciuman), K (Kecupan) yang kalau direaksikan dalam ruangan yang remang-remang bisa menimbulkan ledakan dahsyat.

AHLI KEPENDUDUKAN
Cinta adalah penyebab ledakan penduduk (yang lebih dahsyat dibandingkan ledakan nuklir).

AHLI OLAHRAGA
Cinta harus didahului dengan warming up, supaya tidak terkilir.

AHLI MAKANAN
Cinta adalah suatu situasi yang bisa membuat tai kucing serasa coklat.

Sumber: tidak jelas, ada yang tahu?

apa-arti-cinta

Sabtu, 21 November 2009

Boys Before Flowers merupakan drama terbaru Korea yang akan tayang di stasion TV Indosiar Semenjak 1 Juni 2009. Drama Korea Before Flowers adalah sebuah Drama Meteor Garden versi Taiwan dengan adaptasi dari manga Hana Yori Dango.

Boys Before Flowers Cover

Yang menjadi heboh tentang Drama ini adalah, bahwa Boys Before Flower atau Boys Over Flower dan dalam bahasa Koreanya adalah Kgotboda Namja ternyata menyimpan sebuah mister kutukan.

Selama proses produksi serial yang menyebabkan demam Boys Before Flower di Korea ini berlangsung, sudah empat pemain mengalami kecelakaan mobil, kebetulan keempat pemain tersebut merupakan pemeran utama drama Meteor Garden versi taiwan tersebut.

Tiga pemeran utama Drama tersebut yaitu personel F4, yakni Kim Hyun-joong, Kim Bum, dan Kim Joon, serta pemeran utama wanita, Goo Hye-sun, yang berperan sebagai Geum Jan-di (versi Taiwan bernama San Chai). Kecelakaan terakhir menimpa Goo Hye-sun, yang terjadi pada 28 Februari lalu, dan membuatnya harus dirawat selama beberapa hari di rumah sakit.

Belum selesai keterkejutan pemirsa, pada 7 Maret lalu atau sepekan setelah peristiwa kecelakaan Goo Hye-sun, Jang Ja-yeon, pemeran Sunny, satu dari tiga gadis kaya pengganggu Jan-di, tewas gantung diri di rumahnya di Bundang. Kakaknya menemukannya pada pukul 19.30 waktu Korea. Ja-yeon, 27 tahun, gadis lulusan Chosun University--universitas tertua dan prestisius di Korea Selatan - dilaporkan mengalami depresi berat sejak kedua orang tuanya tewas akibat kecelakaan mobil sepuluh tahun lalu.

Namun, teman-teman terdekatnya mengatakan Jang Ja-yeon mengalami banyak masalah dengan manajemennya, terutama yang berkaitan dengan proses pembuatan serial Boys Before Flower. Beberapa jam sebelum tewas, ia menelepon temannya dan mengatakan, "Masalah ini terlalu sulit dan saya ingin mati."

Posts Tagged ‘BBF’

Kim Hyun-joong VS Kim Jun – with Necklace!

Your webmaster search is: www.BBF

Kim Hyun Joong vs Kim Jun[/caption]

You remember them from the hit drama from earlier this year, “Boys Before Flowers”. Yes, after I compare Kim Hyun-joong with Lee Seung-gi in the same T-shirt, no I’d like to compare Kim Hyun-joong with his friend of BBF.

(more…)

Lee Min Ho: Bye Bye Rambut Keriting!

Your webmaster search is: www.BBF

Lee Min Ho[/caption]

Bye bye ‘permed hair’ a.k.a rambut keriting! (more…)

  • Globalisasi adalah suatu proses tatanan masyarakat yang mendunia dan tidak mengenal batas wilayah.

  • Globalisasi pada hakikatnya adalah suatu proses dari gagasan yang dimunculkan, kemudian ditawarkan untuk diikuti oleh bangsa lain yang akhirnya sampai pada suatu titik kesepakatan bersama dan menjadi pedoman bersama bagi bangsa- bangsa di seluruh dunia. (Menurut Edison A. Jamli dkk.Kewarganegaraan.2005)

Menurut pendapat Krsna (Pengaruh Globalisasi Terhadap Pluralisme Kebudayaan Manusia di Negara Berkembang.internet.public jurnal.september 2005). Sebagai proses, globalisasi berlangsung melalui dua dimensi dalam interaksi antar bangsa, yaitu dimensi ruang dan waktu. Ruang makin dipersempit dan waktu makin dipersingkat dalam interaksi dan komunikasi pada skala dunia. Globalisasi berlangsung di semua bidang kehidupan seperti bidang ideologi, politik, ekonomi, sosial budaya, pertahanan keamanan dan lain- lain. Teknologi informasi dan komunikasi adalah faktor pendukung utama dalam globalisasi. Dewasa ini, perkembangan teknologi begitu cepat sehingga segala informasi dengan berbagai bentuk dan kepentingan dapat tersebar luas ke seluruh dunia.Oleh karena itu globalisasi tidak dapat kita hindari kehadirannya.

Kehadiran globalisasi tentunya membawa pengaruh bagi kehidupan suatu negara termasuk Indonesia. Pengaruh tersebut meliputi dua sisi yaitu pengaruh positif dan pengaruh negatif. Pengaruh globalisasi di berbagai bidang kehidupan seperti kehidupan politik, ekonomi, ideologi, sosial budaya dan lain- lain akan mempengaruhi nilai- nilai nasionalisme terhadap bangsa.

  • Pengaruh positif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme

    1. Dilihat dari globalisasi politik, pemerintahan dijalankan secara terbuka dan demokratis. Karena pemerintahan adalah bagian dari suatu negara, jika pemerintahan djalankan secara jujur, bersih dan dinamis tentunya akan mendapat tanggapan positif dari rakyat. Tanggapan positif tersebut berupa rasa nasionalisme terhadap negara menjadi meningkat.

    2. Dari aspek globalisasi ekonomi, terbukanya pasar internasional, meningkatkan kesempatan kerja dan meningkatkan devisa negara. Dengan adanya hal tersebut akan meningkatkan kehidupan ekonomi bangsa yang menunjang kehidupan nasional bangsa.

    3. Dari globalisasi sosial budaya kita dapat meniru pola berpikir yang baik seperti etos kerja yang tinggi dan disiplin dan Iptek dari bangsa lain yang sudah maju untuk meningkatkan kemajuan bangsa yang pada akhirnya memajukan bangsa dan akan mempertebal rasa nasionalisme kita terhadap bangsa.

  • Pengaruh negatif globalisasi terhadap nilai- nilai nasionalisme

    1. Globalisasi mampu meyakinkan masyarakat Indonesia bahwa liberalisme dapat membawa kemajuan dan kemakmuran. Sehingga tidak menutup kemungkinan berubah arah dari ideologi Pancasila ke ideologi liberalisme. Jika hal tesebut terjadi akibatnya rasa nasionalisme bangsa akan hilang

    2. Dari globalisasi aspek ekonomi, hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri karena banyaknya produk luar negeri (seperti Mc Donald, Coca Cola, Pizza Hut,dll.) membanjiri di Indonesia. Dengan hilangnya rasa cinta terhadap produk dalam negeri menunjukan gejala berkurangnya rasa nasionalisme masyarakat kita terhadap bangsa Indonesia.

    3. Mayarakat kita khususnya anak muda banyak yang lupa akan identitas diri sebagai bangsa Indonesia, karena gaya hidupnya cenderung meniru budaya barat yang oleh masyarakat dunia dianggap sebagai kiblat.

    4. Mengakibatkan adanya kesenjangan sosial yang tajam antara yang kaya dan miskin, karena adanya persaingan bebas dalam globalisasi ekonomi. Hal tersebut dapat menimbulkan pertentangan antara yang kaya dan miskin yang dapat mengganggu kehidupan nasional bangsa.

    5. Munculnya sikap individualisme yang menimbulkan ketidakpedulian antarperilaku sesama warga. Dengan adanya individualisme maka orang tidak akan peduli dengan kehidupan bangsa.

Pengaruh- pengaruh di atas memang tidak secara langsung berpengaruh terhadap nasionalisme. Akan tetapi secara keseluruhan dapat menimbulkan rasa nasionalisme terhadap bangsa menjadi berkurang atau hilang. Sebab globalisasi mampu membuka cakrawala masyarakat secara global. Apa yang di luar negeri dianggap baik memberi aspirasi kepada masyarakat kita untuk diterapkan di negara kita. Jika terjadi maka akan menimbulkan dilematis. Bila dipenuhi belum tentu sesuai di Indonesia. Bila tidak dipenuhi akan dianggap tidak aspiratif dan dapat bertindak anarkis sehingga mengganggu stabilitas nasional, ketahanan nasional bahkan persatuan dan kesatuan bangsa.


PLaJaran BuaT kLian SmUa

Gerbang Sekolah Kehidupan

Gerbang itu masih terbuka dan hangat diterpa sinar ilmu pengetahuan yang memancar dari setiap jendela ruang kelasnya. Gerbang yang selalu ramah dan tersenyum pada siapa saja, baik lelaki maupun perempuan, dari segala suku, bangsa, agama, dan ras, yang diciptakan Sang Maha Pencipta di dunia ini. Mereka yang merasa masih harus banyak belajar sebagai manusia. Mereka yang ingin berbagi. Mereka yang melangkahkan kaki masuk melalui gerbang ini. Memasuki Sekolah Kehidupan; sekolah tanpa batas. Gerbang yang sama itu pula yang menyambutku tiga tahun yang lalu. Percayalah, memasuki sekolah ini, kau takkan pernah tahu apa yang akan kau alami. Dan yang pasti, kau takkan pernah sama lagi.

Bahasa

Aku sangat menyukai puisi dan sastra, jadi dugaanmu tepat. Ruang kelas pertama yang kumasuki adalah kelas bahasa. Di sana aku bertemu dengan mereka yang kini menjadi sahabat-sahabatku. Mbak Rinurbad yang rajin menuliskan resensi buku setiap minggu, Mbak Retno yang gemar menulis puisi dan cerpen surealis, Kang Dani yang sering bolos dari kelas Catcil hanya untuk menuliskan sebait dua bait puisi untuk kami, Mbak Sinta yang ceria dan selalu berpikir positif, Mbak Indar yang selalu kukagumi karena cerpen-cerpennya yang sarat budaya lokal, Mbak Novi yang kadang-kadang mampir di kelas ini untuk sekadar mengungkapkan pikiran dan impiannya, Mbak Divin yang bersemangat mengalirkan puisi-puisinya yang bertenaga, Kang Arrizki Abidin yang pendiam namun ternyata ia pintar bermain gitar dan menggubah puisiku menjadi sebuah lagu, Mbak Nia yang pintar main biola dan sesekali mampir ke kelas ini untuk mengungkapkan asa, Mas Fiyan Arjun yang mengaku masih belajar menulis puisi dan sesekali menuliskan cerpen-cerpennya di kelas.

Tak ketinggalan Kang Jun An Nizami yang juga suka menyendiri namun karya-karyanya sering membuat orang terpukau, Bunda Icha yang sesekali bolos dari kelas Catcil untuk menuliskan cerpen-cerpennya. Mereka adalah sahabat-sahabat yang pertama kali kutemui. Kini, setelah tiga tahun berlalu, kelas bahasa kian ramai dihuni oleh murid-murid baru. Inilah kelas di mana aku banyak belajar. Kelas di mana aku sering duduk di tepi jendelanya sambil merangkai puisi dan cinta yang bertaburan di dalamnya.

Inspirasi dan Motivasi

Adalah Pak Sinang Bulawan, pendiri Sekolah Kehidupan yang pertama kali mengelola kelas ini bersama-sama dengan Pak Teha. Orang tua yang bijak pada siapa aku banyak berkaca melalui tulisan-tulisannya. Aku banyak menemukan pencerahan pada tulisan-tulisan mereka. Juga Mas Adjie, yang juga seorang trainer dan motivator, lalu ada Mbak Jenny Jusuf yang selalu mengatakan padaku untuk “rock your life!”, Mas Nursalam kepala sekolah yang pertama, Kang Dikdik yang pendiam namun tulisan-tulisannya sungguh bernas, hingga murid-murid yang baru seperti Pak Agus Syafii yang rajin membagi pengalamannya nyaris tiap hari. Tak ketinggalan seorang guru sekaligus murid dari Bandung yaitu Kang Hadian, yang karena kekocakannya, jarang ada yang menyangka bahwa beliau adalah seorang trainer dan motivator yang handal. Di kelas inilah, aku bertumbuh menjadi dewasa setiap harinya, menjadi bijak, dan banyak memengaruhi cara berpikir dan bertindak. Karena cinta yang bertebaran di mana-mana selalu memberi kesempatan.

Catcil dan Ruang Kantor

Kelas ini paling banyak dihuni oleh murid-murid Sekolah Kehidupan. Kang Dani, kepala sekolah periode ini dan istrinya Mbak Endah sering bercerita mengenai putra mereka yang tampan, Mbak Syasya, Mbak Indar, Mbak Anty, Mas Fiyan, juga sering berbagi di kelas ini. Tak ketinggalan Mbak Novi, Mbak Nia, Kang Galih, Mbak Ugik, Mbak Sinta juga sering berbagi pengalaman di kelas ini. Aku teringat pada Kang Taufiq, Mbak Asma, dan Mas Catur yang dulu bermukim di Bogor dan sering berbagi mengenai pengalaman hidup masing-masing. Juga Mbak Fety, Mbak Dyah Zakiaty, Mbak Sisca Lahur yang jago memotret, serta Mbak Wiwiek yang gemar mendaki gunung. Semuanya tumpah ruah saling berbagi di kelas ini.

Inilah kelas yang tak pernah sepi. Kelas yang selalu hidup oleh nuansa cinta dan persaudaraan yang kental. Di kelas inilah aku juga mengenal Mas Andri, Mas Aris El Durra, dan juga Udo Yamin. Ada juga Mas Margo yang dulu kadang berbagi di kelas Motivasi dan Inspirasi. Di kelas inilah, kami menjadi sahabat yang saling membantu satu sama lain, suka dan duka adalah cinta bagi kami.

Ruang Musik

Setiap akhir pekan, aku berusaha menyempatkan diri ke kelas ini. Musik yang sudah menjadi bagian dari jiwaku. Di kelas ini aku sering bertemu Mbak Nia dan juga Mbak Retno yang sering menuliskan lirik-lirik lagu penuh makna. Musik yang mengalun penuh cinta memenuhi seantero Sekolah Kehidupan.

Lonceng dan Etalase

Kedua ruang ini merupakan ruang kelas yang paling dinanti oleh setiap murid. Di kelas Lonceng, kami biasa mengabarkan keajaiban-keajaiban hidup yang kami alami. Mulai dari pernikahan, kelahiran, kematian, hingga buku-buku baru karya murid-murid Sekolah Kehidupan yang lahir di kelas Etalase. Kedua kelas inilah cermin keberhasilan dari kelas-kelas yang kami ikuti. Bagiku, kedua kelas ini merupakan tempat berbagi doa dan syukur.

Sudut Lapangan Sekolah Kehidupan

Walau masih banyak ruang kelas di sekolah ini yang belum kumasuki, sesuatu akan terasa sangat berbeda bila kau berdiri di lapangan sekolah. Tempat segala ruang kelas terlihat dengan segenap aktifitasnya. Masih banyak teman-teman baru yang hanya duduk di sudut atau berdiam diri menonton kegiatan-kegiatan sekolah. Teman-teman yang begitu rendah hatinya sehingga tidak mau disebutkan namanya. Dari merekalah aku belajar untuk berkontribusi dan membantu tanpa pamrih, tanpa perlu menjadi terkenal. Salam dan hormatku untuk mereka semua.

Dan sekolah ini, tempat kita menuntut ilmu selama hayat dikandung badan, masih menemani setiap pagi, siang, dan malam seluruh murid-muridnya, takkan pernah kehabisan cerita untuk dikisahkan dan takkan pernah kehabisan tinta untuk dituliskan. Karena selama hidup masih terus ada, sekolah kehidupanpun tetap terus berlangsung. Dan di bawah tatapan Sang Maha Cinta, bagiku, hidup takkan pernah sama lagi.


WeTzzzzzzzTz


TIPS KENCAN PERTAMA DENGAN COWOK

Eh, tau nggak kalo cowok mau memulai kencan pertamanya pasti nervous. Tiga hari sebelum kencan pasti udah mikirin soal penampilannya bahkan sampai obrolan yang pengen dibahas pun juga dipikirin. Biar nggak nervous coba deh tips berikut sebelum kencan dimulai.

Pertama, on time, kesan pertama yang harus kamu ciptain di kencan pertama minimal tepat waktu sampe ke tempat doi. Karena bagaimanapun ini bagian dari tes pengenalan diri yang harus kamu lampaui.

Kedua, Soal penampilan, kalo kamu aslinya emang nyante, nggak suka yang formil. Sebenernya ada triknya biar doi suka dengan penampilan kamu. Meski cuman pake celana jins plus tshirt gaya casual asal rapi dan bersih. Pasti dong doi bakalan surprise.

Ketiga, Kuasain obrolan, sebisa mungkin selama kamu masa pedekate. Jangan bersikap pasif atau acuh tak acuh. Justru kamu harus berani memulai pembicaraan. Ciptain situasi yang lebih hidup. Misalnya doi hoby ngobrol soal musik or olahraga. Kamu juga harus bisa ngimbangin.

Sinopsis cerita

Kesempurnaan hidup terkadang tidak akan pernah lengkap bagi siapapun. Kisah ini bercerita tentang seorang Charis yang mencari pasangan di hari Valentine, ia tidak pernah berpikir akan ditakdirkan oleh seorang gadis bernama Agnes. Dari segi apapun gadis itu terlihat sempurna tapi ia mempunyai kekurangan yang tidak bisa ditutupi bahwa ia adalah seorang gadis tunarungu berhati mulia dan baik.

Mereka berhabat dalam perbedaaan, hingga suatu ketika muncul Denny sahabat sekolah Charis yang menantang ia membawa gadis dalam pesta Valentine sekolahnya. Mereka memang selalu bersaing dalam hal apapun. Charis pria yang mempunyai gengsi tinggi terhadap wanita tanpa sadar batas waktu acara telah membuat seluruh gadis disekolahnya telah berpasangan. Ia pun tidak kehilangan akal mengajak agnes sebagai pasangan valentinenya.

Semuanya berjalan baik, Charis sempat mengingatkan Agnes untuk menutup jati dirinya sebagai gadis bisu walaupun itu sangat melukai perasaan Agnes. Tapi demi sahabat ia rela melakukan yang terbaik, Charis menjadi pangeran yang sempurna saat pesta itu bersama Agnes. Tapi rahasia itu hanya berjalan sesaat hingga Denny menyadari bahwa Agnes gadis cacat. Semua terbongkar, tidak ingin malu dengan keadaan Charis pun melupakan sahabat baiknya itu tanpa pernah mengucapakan apapun.

Agnes tidak bersedih karena hinaan tapi ia bersedih karena kehilangan sahabat, Ia hanya punya satu kesempatan berbuat sesuatu untuk sahabat baiknya itu. apakah itu? ikutin kisah Valentine yang paling menyedihkan dan berkesan bagi anda untuk berpikir bahwa Cinta itu adalah lambang bagi siapapun termasuk sahabat kita

Kupersembahkan kisah ini untuk kakekku yang telah tiada, kekasih yang pernah ada dalam hidupku dan sahabat-sahabatku yang ada disampingku setiap saat.

KISAH VALENTINE TERAKHIR.

Aku pernah bertanya dalam hatiku, apa yang aku cari ketika di hari semua orang memberikan kasih sayang. Sedangkan aku tetap disini untuk terdiam, bertanya siapa yang akan memberikan aku sebuah coklat ataupun setangkai mawar merah yang artinya aku disayangi. Dan ternyata hingga kini usiaku 20 tahun, tak seorang pun yang memberikan hadiah, namun tahun ini aku mendapatkan sebuah hal yang tak pernah aku pikirkan. Hadiah dari kakekku.

Ia datang menempuh jarak yang cukup jauh dengan sepeda tuanya yang layak untuk dimuseumkan. Bunyi sepeda yang mengiris dengki dan ngilu. Namun ia tetap setia datang untuk memberikan aku sebuah hadiah. Aku membuka pintu utama rumahku ketika ia datang memarkir sepedanya di halaman rumahku. Ia tersenyum menatapku dengan membuka topi tua klasik cinanya. Usianya yang sudah 70 tahun tampak terlihat dengan rambutnya yang sudah memutih.

“Kakek, kok siang siang gini datang, apa ga kepanasan?.”
“Gapapa. Mana mamamu?.” tanya Kakek.
“Dia lagi pergi ke rumah tetangga.”
“Oh… ya sudah tak apa. Kamu kenapa tidak kuliah?.”
“Ya, ampun Kakek, ini kan hari libur, hari minggu. Kakek pikun, ya?.”
“Ah… maaf, Kakek lupa. Ini, Kakek ada hadiah kecil untuk kamu.”

Kakek memberikan aku sebuah hadiah dalam kotak kecil usam yang berwarna merah. Tampak dekil dan aku menyentuhnya dengan sedikit jijik, lalu membukanya. Tampak sebuah liontin anting berbentuk bunga matahari perak.

“Apa ini?.”
“Ini hadiah untuk kamu. Cuma ada satu. Satunya lagi ilang. Ini saja baru Kakek temukan pas lagi beres-beres gudang, sayang kalau dibuang. Itu hadiah berkesan Kakek untuk kamu.”
“Hah…? Mana jaman aku pake ginian?.”
“Hehehe… ya simpan saja kalau kamu tidak suka.”
“Oh, kakek mau masuk dulu ga?.”
“Kakek mau duduk di teras rumah kamu saja. Kamu ambilkan kakek teh hangat saja.”
“Oo… ya sudah, tunggu ya!”

Beberapa saat kemudian aku keluar dengan sebuah teh hangat sisa milik ayahku yang sedang pergi bersama ibu. Memberikan teh tersebut di meja teras, menatap wajah kakek yang sedang termenung memandang halaman rumahku yang dipenuhi ikan mas di kolam kecil.

“Kek, ini air tehnya!.”
“Makasih. Kamu kenapa, kok valentine gini masih di rumah?.”
“Hm… kakek tau valentine juga, ya? Kirain ga ada jamannya!.”
“Enak saja! Biar tua gini, kakek juga pernah muda lah!.”
“Oh, gitu ya…”

Aku memperhatikan wajahnya yang termenung. Keringat basah yang bercucuran di keningnya terlihat menyatu dengan keriput tua di garis wajahnya. Lalu ia tiba-tiba mengajakku bicara.

“Kamu kenapa tidak punya pacar sampe sekarang?.”
“Ga tau, Kek. Nasib jelek kali. Emangnya kenapa?.”
“Gapapa. Kakek juga pernah berpikir sama kayak kamu kok. Tapi jangan cemas Angel, takdir cinta manusia itu akan selalu ada.”
“Lah… kok bisa ngomong gitu? Kan Angel ga jelek-jelek amet, Kek. Kenapa masih single, ya? Iri deh sama temen-temen yang punya pacar di Valentine gini.”
“Hehehe… Kakek ada cerita buat kamu. Mau denger?.”

Aku mulai males mendengarkan dongengnya yang selalu kudengar sejak kecil. Namun kesepian dalam rumah juga membosankan. Akhirnya aku terdiam mendengarkan kisahnya saja. Toh tidak ada salahnya.

Di masa lalu. 1943

Charis ( Kakekku) adalah seorang pria bergengsi dalam segala hal. Bahkan hingga ia duduk di bangku SMA, ia tidak mendapatkan kekasih yang ia inginkan. Namun ia bertaruh dengan seorang rekannya akan membawa seorang wanita di hari Valentine. Ia pun bertekad memamerkan wanita itu pada harinya. Dengan segenap usaha dan waktu yang sempit, ia pun mulai mencari-cari. Dari adik kelas yang cantik hingga kakak kelas yang cantik, semuanya ia coba cari untuk menjadi pacarnya.

Namun tidak ada satupun yang berhasil membuat hatinya luluh. Wajah kakek tidak jelek-jelek banget untuk menjadi pria jomblo. Ketika ia pulang sekolah dengan sepedanya yang masih ada hingga sekarang ia pakai, bannya kempes karena tertancap paku. Ia pun terpaksa mendorong sepeda itu hingga kerumah. Di dalam perjalanan, seorang gadis muda berlari memukul kepalanya dengan keras. Wanita itu tampak pucat. Kakek kontan marah.

“Ngapain sih lo, pake mukul kepala gua? Sakit tau!.”

Gadis itu tampak pucat dan tidak bicara. Ia hanya mengerakkan tangan seperti memberikan sandi kepada Charis untuk mengerti maksudnya.

“Apa sih? Ga ngerti, ah! Gila ya lo?.”

Gadis itu terus mengerakkan tangannya. Wajahnya seperti meminta pertolongan. Charis mengira gadis itu tidak waras, lalu pergi ketakutan. Tapi gadis itu tidak menyerah begitu saja, ia pun menarik lengan baju Charis. Charis pun semakin marah..

“Eh, orang cacat, ngapain sih ganggu gua? Ngomong aja ga bisa, uda sana pergi!.”

Gadis itu terdiam. Ia menangis dan Charis menjadi tak enak hati berkata kasar. Lalu berkata

“Emang ada apa sih?.” tanya Charis

Gadis itu menarik tangan Charis untuk mengikutinya. Memasuki sebuah tepi hutan kosong. Ketika mereka tiba, terlihat seekor anak burung terjatuh dari kandangnya yang terdapat di atas rumah pohon leci. Charis mengerti maksud gadis itu, ia hendak meminta tolong Charis mengembalikan burung kecil itu diatas pohon. Charis hanya berpikir mengapa gadis itu harus peduli terhadap burung kecil yang tak ada artinya tersebut. Untungnya bayi burung kecil itu tidak terluka. Ia selamat ke kandangnya. Gadis itu tampak senang. Wajahnya yang sedih kemudian berseri-seri.

“Uda kan? Sana pulang!.” ujar Charis.

Charis pun meninggalkan gadis itu begitu saja. Namun gadis itu menempuk badannya dari belakang.

“Kenapa lagi?.”

Gadis itu mengambil sebuah tangkai pohon kecil menuliskan sesuatu di tanah liat. Lalu Charis membacanya.

“Nama gua sapa? Oh, nama gua Charis, kamu?.” tanya Charis.
“Agnes,” tulisan itu berkata.
“Oh… Agnes, “ ujar Charis.

Gadis itu kemudian menuliskan tulisan kembali.

“Terima kasih. Salam kenal.”

“Ok. Sama-sama. Gua pulang dulu, ya. Lo pulang sana. “

Charis berjalan meninggalkan Agnes. Namun Agnes terus mengikuti pria itu. Charis menjadi risih namun tidak berusaha peduli. Ia terus mengotong sepedanya dan gadis itu terus mengikutinya. Ia semakin emosi.

“Ngapain sih lo, ikutin gua terus?”

Gadis itu terdiam kemudian menunjuk rumah disampingnya. Charis yang tampak marah ikut terdiam memperhatikan rumah di pinggir jalan yang cukup besar.

“Itu rumah lo?.” tanya Charis dan Agnes mengangguk tanda ya..
“Oh… sorry, kirain gua lo ikutin gua terus. Kalau gitu pulang sana. Gua mau pulang juga!.”

Charis memastikan gadis itu telah masuk ke rumahnya. Hatinya tenang. Ia tidak berpikir gadis itu jelek, namun sayang ia bisu. Andai saja ia tidak bisu, ia akan terlihat sempurna. Ketika beberapa meter berjalan, gadis itu kemudian kembali berlari mendekatinya. Nyaris saja Charis naik pitam, namun ketika gadis itu muncul dengan alat pompa, ia mulai mengerti kebaikan gadis itu. Charis menatap gadis itu yang baik hati. Kemudian mereka berpisah.

Keesokan harinya.

Charis sedikit emosi ketika sahabatnya Denny tak henti-henti mengejek dia tidak laku. Hari Valentine semakin dekat namun ia belum saja mendapatkan gadis impian. Akhirnya ia pun memutuskan bolos dari pelajaran selanjutnya. Ia menarik sepedanya kabur dari sekolah dengan ejekan teman-temannya. Ia mengayuh arah sepedanya tanpa arah. Kemudian hujan turun. Ia terhenti di sebuah pohon kecil untuk berteduh dari hujan besar tersebut.

“Denny sialan, pake ngeledekin gua. Dia ga tau aja cewek impian gua kayak apa. Emangnya gua murahan kayak dia, semua juga diembat! Bikin keki aja!.”

Ketika ia mengeluh. Hujan tak semakin mengecil namun semakin besar. Tiba-tiba muncul Agnes, gadis bisu yang ia jumpai dengan sebuah payung berjalan melihatnya. Gadis itu kemudian menyapanya dengan tepukan tangan. Charis yang sedang melamun sedikit kaget ketika melihat Agnes.

“Ngapain lo ujan-ujan keluyuran?.” tanya Charis.

Kali ini gadis itu tidak lagi terdiam. Ia mengambil tas yang berisi buku kecil kemudian menuliskannya.

“Habis pergi lihat burung kemarin. Ingat?.”

“Oh… inget. Ngapain dilihatin terus, emang itu burung lo?.”
“Bukan. Itu burung tak dikenal. Kasian takut jatuh lagi. Dan ternyata tidak. Kamu keujanan, ya?.” tulisnya.
“Ya, iyalah. Emang kalau disini berdiri ngapain?.”
“Tunggu ya, aku pulang ambil payung buat kamu.”
“Hah… ga usah! Repotin aja.”

Agnes tersenyum kemudian berlari bersama payungnya menembus hujan lebat. Mungkin ia tidak mendengarkan suara larangan Charis karena hujan besar membisingkan suasana. Beberapa saat kemudian, gadis itu kembali dengan pakaian yang basah walau mengunakan payung. Ia tersenyum sambil memberikan payung itu pada Charis.

“Idih… lo ngeyel amet, sih! Uda bilang jangan, liat deh lo jadi basah kuyub gitu!.”
“Gapapa. Aku uda biasa. Ini payung, pake ya… Aku mesti pulang dulu.”
“Terus, gua balikin payung ini gimana?.”
“Kamu masih inget kan rumah aku? Ntar kalau sempat kembalikan, kalau tidak sempat, ya sudah buat kamu saja.”
“Oh, ya uda.”

Charis melihat gadis itu berlari menghilang diantara hujan. Ternyata Agnes berlari ke sebuah tempat orang lain berteduh. Ia melihat seorang ibu yang terdiam menunggu hujan dengan wajah cemas danm kedinginan. Ia mendekati sang ibu kemudian memberikan payung itu pada ibu tersebut. Ia berhenti di jalan tadi, sebelumnya ia berkata pada ibu itu untuk tidak ragu meminjam payungnya karena tidak mungkin ia pulang kerumah mengambil payung lagi . Payung yang ia gunakan sekarang ia berikan kepada ibu itu. Payung yang lainnya kini dipakai oleh Charis dan Agnes pulang tanpa payung.

***

Charis menuju rumah gadis itu untuk mengembalikan payung yang ia pinjam ketika hujan lusa lalu. Ia tiba ke rumah yang cukup besar, namun tampak sepi. Ia mengetuk pintu dan kemudian muncul Agnes menyambutnya. Tanpa basa-basi, Charis mengembalikan payung tersebut. Ia menatap wajah Agnes yang cukup cantik dari kepala hingga kakinya dan mulai berpikir.

“Mungkin kalau Agnes gua bawa ke Valentine nanti, mereka bakal kaget, ya? Cantik… tapi dia kan bisu. Gimana ya, ntar jadi ejekan lagi.“

Ia pun melewatkan angan-angan itu dan pergi menuju sekolahnya. Agnes menatap pria itu dengan tersenyum. Melambai-lambaikan tangannya terlihat girang memberikan salam perpisahan. Di sekolah, kembali terjadi perdebatan dengan Denny.

“Charis, valentine itu besok. Mana cewek, lo?.” ledek Denny dan Charis terdiam sambil berpura-pura menulis.
“Udalah, Charis. Kita tau kok lo homo. Hahahaha…” seluruh kelas tertawa dan Charis mulai tidak tahan.
“Gua bukan homo! Gua ada pacar dan namanya Agnes!!.”

Seluruh isi kelas yang bising menjadi sunyi mendengar ucapan Charis. Denny tidak percaya begitu saja.

“Oh… kalau gitu besok buktikan. Tapi… kalau sampe dia ga ada atau lo cuma bohong, lo kita anggap homo. Semua orang uda pikir gitu juga dan mereka saksi. Ok!!.”
“Ok!!”

Charis terlanjur mengeluarkan janji yang tidak bisa ia pungkiri. Sepanjang perjalanan ia mulai berpikir kesalahan fatal yang ia katakan. Tidak ada jalan lain selain menjalankan semuanya dengan terpaksa. Ia pun pergi menuju rumah Agnes. Agnes menyambutnya dengan gembira. Lalu Charis menawarkan rencananya yang disambut kaget oleh Agnes.

“Mau ga? lo besok ikut valentine day di sekolah gua?.”
“Emang boleh?.” tulis Agnes.
“Boleh… tapi janji satu hal ya sama gua.”
“Apa?”
“Maaf sebelumnya. Jangan pernah tunjukin ke semua orang kalau lo itu bisu?.”

Wajah Agnes seketika terlihat murung. Walau tersinggung, ia pun bersedia menyanggupinya. Charis pun mengatur semuanya. Mulai dari semua pembicaran yang tidak boleh menujukkan ia adalah seorang bisu. Hingga penjemputan dan apapun yang dapat membuatnya tidak malu karena membawa Agnes ke sekolahnya. Hari itu pun ditunggu.

Keesokan harinya.

Charis terpaku ketika menjemput Agnes dengan sepedanya. Gadis itu terlihat cantik dengan gaun putihnya. Ia sedikit terlena melihat Agnes begitu cantik dan sempurna. Ia pun membawanya ke sekolah. Di sekolah telah terlihat semua murid yang membawa pasangan masing-masing. Ketika Charis dan Agnes tiba, semua mata terpaku tak percaya. Mengapa Charis bisa membawa seorang gadis cantik. Termasuk Denny, lawan taruhannya.

“Ini Agnes, pasangan gua!.” kenal Charis pada Denny yang juga langsung jatuh cinta pada pandangan pertama.

Kemudian keduanya meninggalkan Denny dengan perasaan malu karena harus mengakui kehebatan Charis. Pesta berakhir sukses dengan kemenangan Charis. Kemudian Charis dan Agnes dapat pulang dengan senyuman besar. Dalam perjalanan, Agnes menepuk pundak Charis dari sepedanya.

“Kenapa?.”
“Mau anterin aku ke rumah pohon burung itu ga?.” tulis Agnes

Charis pun melaju sepedanya ke rumah pohon tersebut. Ketika mereka tiba, Agnes menangis histeris. Ini pertama kalinya Charis mendengar suara pertama dari gadis itu. Ia menangis karena burung kecil itu terjatuh lagi dan kali ini terluka cukup parah hingga kakinya mengalami luka. Charis dan Agnes tidak dapat berbuat apa apa selain membawa burung itu kerumah Agnes. Setelah mengobati lukanya, burung itu dirawat di rumah Agnes.

“Lo kenapa begitu peduli sama burung kecil ini?.”
“Karena burung ini hidup di kandang yang dibuat oleh Kakek untuk aku sebelum meninggal,” tulis Agnes.
“Oh…” lalu Agnes pun bercerita.

Ia memang datang ke kampung kakeknya untuk mengambil barang-barang yang hendak dipindahkan dari rumah kakeknya. Jadi, ia hanya menikmati liburan disini hingga ayah dan ibunya datang menjemputnya.

“Jadi, lo akan pergi dong?.” tanya Charis.
“Iya. Kapan-kapan kamu datang ya, ke daerahku di Bekasi.”
“Hm. Kalau ada waktu datang dong. Kan rumah ini tetap perlu dijaga.”
“Iya pasti, kok. Lagian aku masih lama disini. Tenang aja!.” Tulis Agnes.

Charis pun semakin mengenal gadis berhati mulia itu. Ia mulai menjadi dekat dengan gadis itu. Setiap hari mereka selalu merawat burung itu bersama. Hubungan yang semakin dekat dari hari ke hari, hingga Denny memergoki Charis bersama gadis itu dan menyadari gadis itu cacat. Ia mulai berambisi membuat malu Charis di seluruh kelasnya.

Charis pergi ke sekolah dan semua memandangnya lucu. Ia tak mengerti apa yang mereka tertawakan hingga ketika ia tiba di kelasnya muncul tulisan.

“PACAR CHARIS ITU CACAT ALIAS BISU. TUNA WICARA. KASIAN DEH LO”

Charis spontan marah dan menghapus tulisan itu, namun semua orang mulai tau. Ia pun menjadi malu karenanya. Denny datang menghampirinya.

“Alow, kekasih bisu. Ternyata level lo ama gadis cacat, ya? Hahahaha…”

Mendengar ejekan itu, Charis marah dan menghajar Denny. Mereka terlibat perkelahian dan dihukum oleh guru mereka. Charis yang telah malu, menjadi emosi sehingga ia mulai berpikir untuk memperbaiki nama baiknya dengan memacari seorang adik kelas yang ia tidak cintai. Mereka pun jadian. Denny mengunakan kesempatan ini untuk bertemu dengan Agnes. Ia pun membongkar semua tujuan Charis kepada Agnes.

“Jadi, dia deketin lo cuma buat bikin gua malu supaya dia keliatan laku? Padahal dia cuma manfaatin, lo! Mana mau dia sama, lo! Cacat! Bisu gitu!.”

Agnes berlari menangis mendengarkan kata-kata itu. Ia mulai curiga ketika melihat Charis menghilang sejak beberapa hari lalu tanpa pernah menemuinya. Ia tiba di rumahnya dengan penuh air mata. Hatinya terluka. Sedangkan Charis tidak pernah tau jika rahasia tujuannya kepada Agnes telah dibongkar oleh Denny. Ia memang tak pernah mengujungi Agnes untuk beberapa hari karena kekasih barunya selalu ingin ditemani setiap saat.

***

Agnes merawat burung kecil itu hingga kembali normal. Ia pun berpikir untuk mengembalikan burung itu ke rumah kecilnya. Ketika ia mencoba memanjat ke rumah pohon itu, ia terjatuh. Charis tiba-tiba muncul dan menolongnya. Namun Agnes mendorong tubuhnya dengan wajah marah. Charis menjadi bingung.

“Kok lo marah, kenapa?”

Agnes tidak berkata apapun. Ia pergi begitu saja meninggalkan Charis. Tanpa sadar ketika terjatuh. Liotin anting yang Agnes pakai terjatuh satu disekitar pohon. Charis mengambilnya lalu mengejar gadis itu yang sedang berjalan dengan kaki kesakitan. Charis berusaha memanggil Agnes tapi sia-sia, ia tidak mengerti mengapa gadis itu marah padanya. Ia pun menghentikan langkah gadis tersebut. Agnes mengeluarkan sebuah tulisan.

“Aku memang cacat, tapi aku ga bodoh! Aku bukan mainan yang bisa kamu gunakan buat acara valentine kamu sebagai wanita pajangan! Terlebih buat taruhan kamu sama temen kamu!!”

Charis sontak kaget ketika rahasia yang ia simpan rapat terbongkar. Ia melihat Agnes menangis dan hatinya merasa tak enak. Lalu membiarkan gadis itu pergi. Ketika gadis itu semakin menjauh, ia menyadari kesalahannya, lalu berteriak.

“Nes… sorry! Sorry!”

Agnes berjalan tanpa mendengarkan apapun, hatinya terlanjur sakit. Ia pun meninggalkan pria itu seorang diri. Charis menatap liotin anting di tangannya. Ia marasa tidak pantas untuk bicara dengan dirinya yang hina. Kemudian kembali ke rumah pohon kecil burung tersebut. Ia pun ingin menebus kesalahannya terhadap Agnes. Rumah pohon itu tampak rusak karena dibangun seadanya. Ia pun berpikir ingin memberikan hadian kepada Agnes dengan membuat rumah baru untuk burung-burung yang akan hidup disana.

Charis pun menjadi sibuk setiap harinya. Dengan penuh perjuangan, ia membangun rumah tersebut dan berhasil dengan sempurna tiga hari kemudian. Rumah burung diatas pohon itu menjadi indah dan rapi. Ia pun segera menuju rumah Agnes. Agnes sesungguhnya selalu memperhatikan apa yang dilakukan Charis setiap harinya. Ia menyadari laki-laki itu tidak seburuk yang ia pikir, namun ia sadar kepergiannya sesaat lagi akan tiba. Ia pun sadar dirinya yang cacat dan bisu hanya menjadi celahan Charis karena kesalahan berteman dengannya. Karena gadis cacat dianggap kutukan pada saat itu.

Ia pun meminta pembantunya untuk bilang kepada Charis kalau ia telah kembali ke kampung halamannya. Charis tampak terkejut mendengarkan kepergian gadis itu begitu cepat. Ia termenung bersalah, kemudian memberikan liontin anting yang dijatuhkan Agnes kepada pembantunya agar diberikan kelak bila bertemu kembali. Dengan air mata yang jatuh membasahi pipi. Agnes pun menatap kepergian Charis penuh duka. Charis pun kembali ke rumah dengan perasaaan sedih.

Beberapa hari kemudian, Jepang datang menginvasi Indonesia. Daerah tempat tinggal Charis menjadi salah satu konflik. Ia pun harus segera mengungsi bersama orang tuanya. Sebelum ia pergi, ia sempatkan untuk melihat rumah burung kecil di atas pohon. Tampak burung kecil itu menjadi dewasa dan hendak terbang. Ia pun menemukan sesuatu di rumah tersebut.

Sebuah liontin anting yang ia titipkan kepada sang pembantu dan sebuah surat kecil tulisan Agnes.

“Terima kasih atas rumah kecil ini. Kelak mungkin kita tidak akan pernah sadar kita adalah sebuah takdir. Simpanlah satu liotin ini sebagai kenangan terakhir yang bisa kuberikan kepadamu. Jika kita berumur panjang, kita akan bertemu. Jika tidak, biarkan kehidupan lain menanti kita. Satu dihatiku dan satu dihatimu untuk selamanya.”

Charis menangis dengan berat hati ketika ia menyimpan liotin tersebut. Ia pun mengungsi untuk selama perperangan. Agnes pun menghilang dengan selamanya. Sejak saat itu, mereka tidak pernah bertemu. Setelah perang usai, Charis pergi ke Belanda untuk kuliah dan kembali dengan menikahi seorang wanita yang akhirnya menjadi nenek Angel. Ia tak pernah menyadari liontin itu tersimpan dan masih ada hingga ia membenarkan isi gudangnya.

Kembali ke masa sekarang.

Angel tampak menitihkan air mata ketika mendengarkan kisah kakeknya. Tidak seperti biasa, ia selalu mengantuk ataupun beralasan untuk tidak pernah niat untuk mendengar. Kali ini kisah tersebut telah meruntuhkan sanubarinya untuk mendengar kisah tragis cinta tersebut. Hanya satu pertanyaan yang bisa ia berikan kepada sang kakek.

“Kakek, apa yang akan kakek lakukan bila bisa bertemu Agnes lagi”
“Itu tidak mungkin. Dia mungkin telah meninggal. Usia kakek sudah 70an sekarang. Ketika dulu, ia lebih tua 3 tahun dari kakek. Mungkin ia telah meninggal.“
“Ya… jawab dong kalau andai saja!”
“Ok. Kakek mau bilang satu hal sama dia. Kisah valentine antara kakek dengan dia adalah kisah terakhir yang paling indah dalam hidup kakek. Karena itulah valentine pertama kakek.”

Angel memeluk kakeknya. Ia begitu terharu terhadap kisah cinta sang Kakek. Beberapa tahun kemudian, ia mendapatkan seorang laki-laki yang ia cintai dan akhirnya menikah. Dalam sebuah undangan yang tak terduga, seorang wanita tua datang dengan sebuah tongkat di tangannya bersama sang cucu. Nenek itu mengunakan kalung yang tak asing bagi Angel. Nenek itu memberikan ucapan selamat. Angel hanya memadang nenek itu seperti asing, namun tidak pada kalung yang ia gunakan.

Kakek yang duduk di kursi paling ujung, mendapatkan giliran untuk bersalaman. Kakek melihat dengan jelas liotin yang nenek itu pakai. Air matanya terhanyut begitu saja. Sang Nenek bertanya kepada cucu itu melalui cucunya yang mengerti bahasa isyarat tangan dari sang nenek.

“Kakek, nenek saya ingin berkata sesuatu sama kamu. “
“Apa, nak?”
“Kakek sudah tua, tak malu menangis di hadapan anak-anak muda? Hehehe…,” ledek nenek itu.
“Siapa nama nenekmu?”
“Agnes.”


cReaTed By JuLianThy MuTz

Definisi cinta selalu berbeda bila manusia berupaya membatasinya dalam kata-kata. Cinta adalah keabsurdan abadi yang hanya akan dapat dirasakan ketika sudah lepas dari raga. Cinta dalam keabadian adalah hakekat cinta yang dicari manusia.

Salah satu bentuk upaya mengenali cinta yaitu memilah karakteristik cinta pada manusia . Ada 6 tipe cinta manusia yang boleh setuju boleh juga membuat sendiri sesuai selera. Karena tipe-tipe di bawah ini lebih nyrempet pada definisi cinta yang tergoda syahwat antara 2 jenis manusia.

1. Eros (cinta romantik)
- Cinta pada pandangan pertama
- Daya tarik jasmaniah

2. Mania (cinta memiliki)
- Mudah sekali cemburu
- Sangat terobsesi dengan orang yang dicintai
- Bergantung pada orang yang dicintai

3. Storge (cinta persahabatan)
- Dimulai dari persahabatan, saling berbagi, saling mengungkapkan secara bertahap
- Sangat bijaksana, hangat dan sarat persudaraan

4. Pragma (cinta pragma)
- Menuntut adanya pasangan serasi dan hubungan yang berjalan baik
- Dapat memuaskan kebutuhan dasar dan praktis mereka

5. Agape (cinta altruistic)
- Perhatian
- Keinginan memberikan sesuatu
- Siap memaafkan pasangan

6. Ludus (cinta main-main)
- Memiliki lebih dari satu cinta dalam satu saat
- Berakhir bila pasangan mulai bosan atau menjadi terlalu serius

CrEaTed By L#y-an THyE
PLeaCe yOuR cOmMenT

nice mirror

Saya menabrak seorang yang tidak dikenal
ketika ia lewat. “Oh, maafkansaya” adalah reaksi saya.
Ia berkata, “Maafkan saya juga; Saya tidak melihat Anda.”

Orang tidak dikenal itu, juga saya, berlaku sangat sopan.
Akhirnya kami berpisah dan mengucapkan selamat tinggal.
Namun cerita lainnya terjadi di rumah, lihat bagaimana kita memperlakukan
orang-orang yang kita kasihi, tua dan muda.

Pada hari itujuga, saat saya tengah
memasak makan malam, anak lelaki saya berdiri diam-diam di
samping saya. Ketika saya berbalik, hampir
saja saya membuatnya jatuh. “Minggir,” kata saya
dengan marah. Ia pergi, hati kecilnya hancur. Saya tidak
menyadari betapa kasarnya kata-kata saya kepadanya.

Ketika saya berbaring di tempat tidur, seolah dengan halus Tuhan berbicara padaku,
“Sewaktu kamu berurusan dengan orang yang tidak kau kenal, kesopanan kamu
gunakan, tetapi anak-anak yang engkau kasihi, sepertinya engkau perlakukan
dengan sewenang-wenang. Coba lihat ke lantai dapur, engkau akan menemukan
beberapa kuntum bunga dekat pintu.”
“Bunga-bunga tersebut telah dipetik sendiri oleh anakmu; merah muda, kuning
dan biru. Anakmu berdiri tanpa suara supaya tidak menggagalkan kejutan yang
akan ia buat bagimu, dan kamu bahkan tidak melihat matanya yang basah saat itu.”

Seketika aku merasa malu, dan sekarang air mataku mulai menetes.
Saya pelan-pelan pergi ke kamar anakku dan berlutut di dekat tempat
tidurnya, “Bangun, nak, bangun,” kataku.
“Apakah bunga-bunga ini engkau petik untukku?”

Ia tersenyum, ” Aku menemukannya jatuh dari pohon. Aku
mengambil bunga-bunga ini karena mereka cantik seperti Ibu.
Aku tahu Ibu akan menyukainya, terutama yang berwarna biru”.

Aku berkata, “Anakku, Ibu sangat menyesal karena telah kasar padamu; Ibu
seharusnya tidak membentakmu seperti tadi. “

Si kecilku berkata, “Oh, Ibu, tidak apa-apa. Aku tetap mencintaimu.”
Aku pun membalas, “Anakku, aku mencintaimu juga,
dan aku benar-benar menyukai bunga-bunga ini, apalagi yang biru.”

Apakah anda menyadari bahwa jika kita mati besok,
perusahaan di mana kita bekerja sekarang bisa saja dengan
mudahnya mencari pengganti kita dalam hitungan hari?
Tetapi keluarga yang kita tinggalkan akan merasakan
kehilangan selama sisa hidup mereka.
Mari kita renungkan, kita melibatkan diri lebih dalam kepada pekerjaan kita
ketimbang keluarga kita sendiri, suatu investasi yang tentunya kurang
bijaksana, bukan?

Jadi apakah anda telah memahami apa tujuan cerita di atas?

Apakah anda tahu apa arti kata KELUARGA?
Dalam bahasa Inggris, KELUARGA = FAMILY.
FAMILY = (F)ATHER (A)ND (M)OTHER, (I), (L)OVE, (Y)OU

AUTHOR: UNKNOWN

#######################################################################

Ajari Aku Memeluk Landak

Cassie menunggu dengan antusias. Kaki kecilnya bolak-balik melangkah
dari ruang tamu ke pintu depan. Diliriknya jalan raya depan rumah.
Belum ada. Cassie masuk lagi. Keluar lagi. Belum ada. Masuk lagi.
Keluar lagi. Begitu terus selama hampir satu jam. Suara si Mbok yang
menyuruhnya berulang kali untuk makan duluan, tidak dia gubris.

Pukul 18.30. Tinnn… Tiiiinnnnn…!! Cassie kecil melompat girang!
Mama pulang! Papa pulang! Dilihatnya dua orang yang sangat dia cintai
itu masuk ke rumah.

Yang satu langsung menuju ke kamar mandi. Yang satu mengempaskan diri
di sofa sambil mengurut-urut kepala. Wajah-wajah yang letih sehabis
bekerja seharian, mencari nafkah bagi keluarga.
Bagi si kecil Cassie juga, yang tentunya belum mengerti banyak. Di
otaknya yang kecil,
Cassie cuma tahu, ia kangen Mama dan Papa, dan ia girang Mama dan
Papa pulang.

“Mama, mama…. Mama, mama….” Cassie menggerak-gerakkan
tangan. “Mama….” Mama diam saja. Dengan cemas Cassie
bertanya, “Mama sakit ya? Mana yang sakit? Mam, mana yang sakit?”

Mama tidak menjawab. Hanya mengernyitkan alis sambil memejamkan mata.
Cassie makin gencar bertanya, “Mama, mama… mana yang sakit? Cassie
ambilin obat ya? Ya? Ya?”

Tiba-tiba… “Cassie!! Kepala mama lagi pusing! Kamu jangan berisik!”
Mama membentak dengan suara tinggi.

Kaget, Cassie mundur perlahan. Matanya menyipit. Kaki kecilnya
gemetar. Bingung. Cassie salah apa? Cassie sayang Mama… Cassie
salah apa? Takut-takut, Cassie menyingkir ke sudut ruangan. Mengamati
Mama dari jauh, yang kembali mengurut-ngurut kepalanya. Otak kecil
Cassie terus bertanya-tanya: Mama, Cassie salah apa? Mama tidak suka
dekat-dekat Cassie? Cassie mengganggu Mama?
Cassie tidak boleh sayang
Mama, ya? Berbagai peristiwa sejenis terjadi. Dan
otak kecil Cassie merekam semuanya.

Maka tahun-tahun berlalu. Cassie tidak lagi kecil. Cassie bertambah
tinggi. Cassie remaja. Cassie mulai beranjak menuju dewasa.

Tin.. Tiiinnn… ! Mama pulang. Papa pulang. Cassie menurunkan kaki
dari meja. Mematikan TV. Buru-buru naik ke atas, ke kamarnya, dan
mengunci pintu. Menghilang dari pandangan.

“Cassie mana?”

“Sudah makan duluan, Tuan, Nyonya.”

Malam itu mereka kembali hanya makan berdua.
Dalam kesunyian berpikir dengan hati terluka: Mengapa anakku sendiri, yang
kubesarkan dengan susah payah, dengan kerja keras, nampaknya
tidak suka menghabiskan waktu bersama-sama denganku? Apa salahku?
Apa dosaku? Ah, anak jaman sekarang memang tidak tahu hormat sama
orangtua! Tidak seperti jaman dulu.

Di atas, Cassie mengamati dua orang yang paling dicintainya dalam
diam. Dari jauh. Dari tempat di mana ia tidak akan terluka. “Mama,
Papa, katakan padaku, bagaimana caranya
memeluk seekor landak?”

(CN02 – SM )

###########################################################################

Just Do It

Agaknya hakikat perkawinan kini makin tak mudah dipahami, menyusul
makin banyaknva pasangan gampang menceraikan diri.

Padahal, kalau kita buat daftar alasan mengapa orang memutuskan untuk
menikah dan daftar alasan mengapa mereka bercerai, pasti akan
ditemukan banyak overlaping pada kedua daftar tersebut.

Ketika menjemput teman di bandara sore tadi, tak sengaja saya
mendapat pelajaran berharga arti sebuah perkawinan.
Di ruang kedatangan, seorang pria paruh baya menenteng
koper dan tas kecil tergopoh menjemput keluarga yang datang
menjemputnya.

Sambil berjongkok ia memeluk anaknya yang kecil, perempuan usia lima
tahun. Dari hangatnya pelukan erat anak-bapak ini tercermin betapa
masing-masing amat rindu. “Apa kabar Dik? Papa kangen nih.” Sang anak
tersipu-sipu, Adik juga kangen Pa.” Kemudian ia memandang si sulung.
Bocah lelaki usia 10 tahun. “Wah, Dion sudah gede sekarang” ujarnya
sambil merangkulnya. Mereka saling mengelus kepala. Adegan
selanjutnya, adalah ciuman kasih si pria terhadap ibu kedua anaknya,
layaknya pengantin baru.

Rasa iri terbersit di hati melihat adegan tersebut.

“Sudah berapa tahun usia perkawinan Anda,”
tanya saya kepada si pria.

“Kami sudah menikah selama 17 tahun,” jawabnya
tanpa melepaskan gandengan tangan istrinya.

“Omong-omong, Anda pergi berapa lama sih?”

“Dua hari,” jawabnya singkat.

Saya terkejut mendengar jawaban itu. Betapa tidak, melihat kerinduan
masing-masing dalam penyambutan mesra itu, saya pikir pria tadi sudah
meninggalkan keluarganya selama berbulan-bulan.

“Mengapa Anda tanyakan hal itu,” tanya si pria melihat wajah saya termangu.

“Well, semoga saya bisa seperti Anda.”

“Jangan hanya berharap. Just Do It,” ujarnva berlalu.

Barangkali memang benar pernyataan Mignon McLaughlin jurnalis Amerika
terkenal, sebuah perkawinan yang berhasil menuntut jatuh cinta
berkali-kali tapi selalu pada orang yang sama.*


CreaTed By JuLianT#y


CINTA ATAU PERSAHABATAN

Saat pertama kali aku melihatnya, aku sudah terpesona dengannya. Postur tubuhnya tinggi, kulitnya putih dan wajahnya yang tampan membuatku ingin kenal lebih dekat dengannya. Dia adik kelasku, namanya Bima. Saat itu aku hanya kagum tapi tidak sedikitpun aku punya perasaan apa-apa padanya. Aku hanya menganggapnya sebagai adik meskipun aku tidak tahu bagaimana sebenarnya perasaannya padaku. Karena dia tidak memanggilku dengan sebutan kakak melainkan langsung sebut namaku. Hal itu tidak jadi masalah buatku, mungkin dia tidak ingin usia menjadi pembatas bagi persahabatan kami.

Hari terus berjalan, semakin hari aku semakin dekat dengan dia. Kami saling menyapa bila bertemu dan bila aku ke Perpustakaan dia juga kesana. Saat aku sakit, dia terus menerus menanyakan keadaanku pada adik sepupuku, Bahri, yang kebetulan mereka saling kenal walaupun tidak satu kelas.

Dengan berjalannya waktu, sedikit demi sedikit ada perasaan aneh di hatiku. Aku sering memikirkan Bima. Tiap malam aku sering mimpi dia. Hatiku bergetar saat bertemu dengannya. Hatiku damai saat melihat senyumnya. Mulai saat itu aku berpikir, apa ini yang namanya CINTA ?

***

“Ke kantin yuk” ajak Noni saat istirahat.

“Ayo, kebetulan aku lapar” aku langsung beranjak dari tempat dudukku dan keluar kelas menuju kantin.

Di kantin, sambil melahap bakso Noni bertanya padaku.

“Kamu kenal Bima, anak kelas 2 IPA 1 ?” tanyanya.

“Iya, kenapa ?” aku heran kenapa tiba – tiba dia bertanya tentang Bima, dan aku mulai curiga.

“Dia temannya Bahri kan? Tolong ya tanya ke dia semuanya tentang Bima, alamat rumah, telepon rumah, no hp, dan….” Belum selesai dia melanjutkan kata - katanya, aku langsung tersedak.

“Pelan – pelan kalau makan”

Aku langsung tersenyum padanya.

“Hayo !!! Kamu suka ya sama Bima?”ledekku. Dia hanya tersenyum.

Dia memang sahabatku, tapi aku tidak pernah cerita padanya kalau aku juga suka sama Bima. Aku juga belum pernah cerita padanya kalau Bima sering smsan denganku.

Dia sangat senang sekali ketika aku berjanji untuk membantu dia supaya bisa kenal lebih dekat dengan Bima Namanya sahabat, aku ingat ketika aku susah dia selalu membantuku maka sekarang giliran aku untuk membantunya.

***

Kukenalkan Noni dengan Bima, kuberi nomor hpnya dan mereka sering smsan. Aku sangat senang sekali karena mereka sudah akrab. Mendengar dan melihat sahabatku gembira maka aku juga ikut gembira.

Selama KBM ( Kegiatan Belajar Mengajar ) berlangsung, Noni tampak murung. Terlihat dari wajahnya dia tidak konsentrasi pada pelajaran. Aku biarkan dia seperti itu sampai proses KBM selesai.

“Kamu kenapa Non ?” tanyaku dengan penasaran.

“Aku lagi marah sama kamu dan Bima”, jawab Noni dengan berjalan keluar kelas.

“Marah sama aku dan Bima ? Masalahnya apa ?”, tanyaku sambil membuntuti Noni yang melangkah ketempat duduk di depan kelas.

“Rupanya aku hanya di buat jembatan antara kamu dan Bima, pantas saja kamu dengan senang hati memperkenalkan Bima padaku” kata Noni dengan nada marah.

“Jembatan ? Jembatan apa ? Bima mengatakan apa sama kamu, aku tidak mengerti maksudmu Non”, tanyaku dengan heran.

“Sudahlah tidak usah munafik, kamu bilang hubunganmu dengan Bima hanya sebatas adik dan kakak. Tapi……” Dia tidak sanggup menyelesaikan kata – katanya. Air matanya menetes membuatku tambah bingung

“Tapi apa ?” aku tidak sabar ingin tahu permasalahannya.

Dia menyodorkan hpnya padaku.

“Bima sms aku”

Aku buka inbox di hpnya.Aku kaget saat membacanya

Aku menyukainya, aku sangat menyayanginya. Aku ingin hubunganku dengannya lebih dari sekedar kakak adik. Kamu mau kan bantu aku. Dan satu lagi, aku minta fotonya.Terima kasih ya teman.

“Kamu tega mempermainkan perasaanku, kamu tega mempermalukanku di depan Bima. Kamu bukan sahabatku lagi. Seorang sahabat tidak akan menyakiti sahabatnya sendiri”, Noni masuk kelas dengan berlari.

Aku tidak bisa berucap sepatah katapun. Aku hanya diam membisu, aku tidak beranjak dari tempat dudukku. Aku tidak peduli Noni marah – marah padaku. Yang ada dipikirannku hanya Bima. Sejuta tanya di hatiku, apa dia juga merasakan apa yang aku rasakan?

“Selamat pagi teman – teman”, sapa Ana dan Wati dengan kompak.

“Kenapa Ning, Kok Noni sepertinya habis nangis. Kalian bertengkar ya? Sampai – sampai Noni meninggalkan kita begitu saja” tanya Wati padaku.

“Tidak Wat, cuma salah paham. Sudahlah ayo kita masuk bel sudah berbunyi” aku menggandeng tangan Wati dan Ana memasuki kelas.

Aku hanya diam dan melamun saja. Saat itu aku benar – benar tidak menyangka hal itu akan terjadi. Dan itu sungguh diluar dugaanku. Jadi saat itu kubiarkan kemarahan Noni tertumpah padaku dan juga tuduhan – tuduhannya itu, walaupun sebenarnya hatiku sakit.

Setelah bel berbunyi tanda istirahat tiba saat itu juga aku mencari Bima di Perpustakaan untuk mengetahui kebenaran dari semua yang telah terjadi. Dan ternyata Bima ada di Perpustakaan. Aku menghampirinya yang sedang duduk dipojok ruangan.

“Bima, kamu sms apa sama Noni ? kenapa dia sampai begitu marah padaku” tanyaku.

“Eh…. kamu Ning, duduk dulu nanti kuceritakan yang sebenarnya padamu”, jawab Bima dengan santai. “Aku hanya minta tolong padanya untuk memintakan fotomu, apa itu salah ? Dan Noni juga tanya, apa sebenarnya perasaanku padamu. Ya …. Aku jawab kalau sebenarnya aku menyukaimu tapi aku takut mengatakannya, takut kamu marah” jelas Bima panjang lebar.

Aku terkejut mendengar penjelasannya. Aku juga bingung, di satu sisi aku juga suka padanya tapi di sisi lain ada sahabatku yang juga mempunyai perasaan yang sama.

“Aduh Bima, kenapa ngomong begitu sama Noni”, tanyaku.

“Kenapa ?” Tanyanya sambil mengernyitkan keningnya.

“Tapi…, Noni menyukaimu, apa kamu nggak merasa sikapnya yang begitu perhatian sama kamu” ucapku.

Bima mendekatkan kursinya padaku, Ningsih. Dia raih tanganku yang tergeletak di atas meja. Dia tatap mataku.

“Aku menganggap Noni hanya temen biasa, kalaupun dia memberi perhatian lebih sama aku karena dia menyukaiku, itu hak dia. Aku tidak bisa merubah perasaanku padanya” Matanya masih tetap memandangku membuatku semakin salah tingkah.

“Bim, tapi aku ini kakakmu dan kita cuma teman”, kataku pada Bima sambil sesekali menatap matanya yang tajam.

“Kenapa ? kamu tidak suka sama aku. Apa ada perbedaan usia dalam cinta ?”

Tangannya menggenggam tanganku semakin erat dan tatapannya semakin tajam membuat hatiku berdebar. Aku bingung harus mengatakan apa padanya. Tidak ada sepatah katapun yang terlontar dari mulutku.

“Kalau kamu anggap aku salah dan kurang sopan telah mencintai kakak kelas. Aku tidak memaksamu untuk menyukaiku dan membalas cintaku, tapi aku mohon jangan kamu paksa aku untuk menyukai sahabatmu. Karena aku tidak mengobral cinta. Jangan sok jadi Pahlawan kalau hatimu sengsara. Aku tunggu jawabanmu segera”, Bima pergi meninggalkan aku yang terdiam membisu.

***

Tidak terasa hari beranjak siang, bel berbunyi pertanda jam sekolah sudah usai. Ketika aku berjalan sampai di depan gerbang sekolah aku melihat Bima, dia tersenyum padaku. Akupun membalas senyumannya. Dalam perjalanan pulang aku tidak henti – hentinya memikirkan apa yang dikatakan Bima. Nampak ada suatu kemarahan yang tersirat dalam perkataanya terbukti ia mengatakan bahwa dia tidak megobral cinta.

Sesampainya di rumah aku masih memikirkan bagaimana caranya untuk menyatukan Noni dengan Bima. Sedangkan belum kukatakan maksudku dia sudah mengunciku dengan kata – kata jangan jadi Pahlawan dan dia tidak mengobral cinta. Aku sangat bingung, apa yang harus aku lakukan. Aku tidak mungkin mengorbankan persabatanku dengan Noni hanya karena Bima. Jika aku menerima Bima jadi kekasihku, aku pasti akan kehilangan sahabatku. Akhirnya aku memutuskan untuk menelepon Bima.

“Hallo.. Bimanya ada ?” tanyaku.

“Ada apa Ning, apa kamu sudah siap menjawabnya sekarang?” Ternyata dia sudah hafal dengan suaraku

“Bim,kamu jangan terburu - buru mengambil keputusan untuk menjalin hubungan denganku. Bukankah Noni juga sangat baik dan sangat perhatian padamu”, aku berharap Bima tidak marah dengan ucapanku.

“Sudahlah Ning, aku sudah tahu dan sangat mengerti maksudmu. Tidak usah basa - basi. Katakan saja kamu menolakku karena kamu anggap aku tidak pantas denganmu, aku masih kecil. Tidak usah mencari alasan dengan menjodohkan aku dengan sahabatmu”

Lalu tidak terdengar lagi suara Bima, dia sudah menutup telponnya. Baru kali ini dia marah padaku. Hatiku sakit. Aku sayang padanya, aku tidak ingin kehilangan dia tapi aku juga tidak ingin kehilangan sahabatku.

Kurebahkan tubuhku di atas ranjang, kubiarkan air mataku terus menetes dan dengan perlahan kucoba pejamkan mata.

***

Pagipun kembali datang. Matahari mulai menampakkan wajah terangnya di bumi. Kembali aku seperti biasanya. Pergi ke Sekolah, dengan membawa kebimbangan hati. Dari jauh kulihat Noni, setelah aku hampir mendekatinya dia pindah tempat. Aku tahu dia memang sengaja menghindariku. Mungkin dia masih marah padaku. Sampai di depan pintu kelas, Wati dan Ana menghadangku.

“Ningsih, sebentar aku mau bicara”, kata Wati seraya menarik tanganku agar duduk disebelahnya.

“Ada apa, serius amat kalian ini” tanyaku, aku berusaha bersikap tenang pada mereka.

“Sebentar Wat, kita ucapkan selamat dulu pada teman kita ini”, kata Ana dengan senyum – senyum.

“Selamat ? Untuk apa ?”, tanyaku sedikit heran.

“Oh..iya, Selamat ya. Kamu sudah jadian sama anak kelas satu yang cakep itu. Tapi kamu jahat, kamu nggak pernah cerita sama kita, takut cowoknya diambil sama kita?”, ledek Wati.

“Jadian sama Bima ?” aku semakin tidak mengerti maksud mereka.

“Kata Noni kamu sudah jadian sama Bima dan kemarin kita juga lihat kamu keluar dari Perpustakaan dan sebelumnya juga Bima keluar dari sana.”, Ana bertanya dengan semangat.

“An, itu tidak benar. Aku bertemu dengan Bima di Perpustakaan kemarin untuk menjernihkan masalah.”, jawabku.

“Sudahlah Ning, kami sudah tahu semua masalahmu dengan Noni. Kalau kamu menyukai Bima terima saja dia.” saran Ana.

“Apa kalian akan mengorbankan kebahagiaan Noni? Apa aku bisa bahagia di atas kesedihan orang lain?” ucapku dengan menahan emosi.

“Sudahlah ayo masuk dulu, kalian tidak dengar bel sudah berbunyi”, Wati menarik tanganku.

Didalam kelas Noni tidak menoleh sedikitpun padaku. Keadaan kelas nampak sepi. Mereka nampak serius mendengarkan Guru Matematika yang sedang membahas soal yang begitu sulit. Cuma pikiranku saja yang tidak menyatu dengan mereka.

Akhirnya bel istirahat berbunyi. Aku, Wati, dan Ana pergi kekantin sementara Noni memang sengaja tidak ikut.

“Ning, lihat itu Bima, kelihatannya dia juga mau kekantin. Wah… An, nampaknya mereka sudah sehati. Ningsih ke Perpustakaan Bima juga kesana. Sekarang Ningsih ke kantin, Bima juga ke kantin. Jangan-jangan kalian janjian. Kita jadi mengganggu An”, kata Wati dengan senyum-senyum meledekku.

“Janjian ? Aku nggak janjian sama Bima”, jawabku.

“Oh…jadi ceritanya cuma kebetulan saja !”, kata Wati dan Ana dengan kompak

Sesampainya di kantin, Bima juga sampai di sana. Tapi anehnya dia tidak menoleh sedikitpun padaku. Dia sengaja berpura – pura tidak melihatku. Ana dan Wati sama- sama memandangku dengan rasa heran melihat sikap Bima yang seolah – olah dia tidak mengenalku.

Setelah makan bakso selesai Ana dan Wati mengajakku duduk di dekat kantin yang kebetulan di sana ada bangku kosong dan juga sepi. Mereka kembali mengintrogasiku.

“Ning, kenapa Bima cuek sama kamu. Apa kamu sudah menyakitinya”, tanya Ana dengan penasaran.

“Mungkin juga An. Aku menyuruhnya untuk menyukai Noni dan jangan menyukaiku”, jawabku.

“Hah… kamu gila, kamu menolak cinta Bima. Padahal banyak yang antri untuk merebut hatinya. Aku saja tidak akan menolak jika dia menyatakan cinta padaku. Sayang sekali kalau cowok cakep seperti dia dibiarkan lewat begitu saja”, kata wati sambil tertawa.

“Huh… dasar, memang kamu saja Wat yang nggak bisa lihat cowok cakep. Lalu Ning, cuma itu alasanmu menolak cinta Bima ?”, tanya Ana.

“Ya… cuma itu, aku bingung. Lagian hubunganku selama ini cuma sebatas kakak dan adik”, kataku.

“Ning, sebuah hubungan bisa berubah kapan saja asalkan didasari oleh perasaan saling menyayangi dan mencintai. Musuh saja bisa menjadi sepasang kekasih bila diantara mereka ada perasaaan mencintai. Sekarang jawab pertanyaanku dengan jujur. Apakah kamu sayang sama Bima ? Apa kamu bisa merelakan Bima jalan sama Noni sementara hatinya tersiksa gara-gara dia tidak mencintai Noni ? Apa kamu memang sengaja menyakiti hati Bima ?”, kata Noni dengan pandangannya yang mendalam padaku.

“Tentunya tidak, aku tidak ingin menyakiti Bima. Aku juga tidak ingin dia bersikap seperti itu padaku.”, kataku dengan menunduk, aku tidak berani menatap wajah Ana.

“Nah…,berarti kamu mencintai Bima. Tapi kamu tidak membiarkan cintamu itu tumbuh. Sekarang coba kamu pikir, menurutmu apakah kamu sudah berjasa telah menyatukan Noni dengan Bima. Bagaimana jika nanti mereka jadian, tidak lama kemudian Bima memutuskan Noni. Apakah Noni tidak sedih. Lebih baik kita bunuh cinta Noni sekarang daripada nanti dia lebih dalam luka dihatinya. Noni harus terima kenyataan kalau cintanya tidak bersambut. Sudahlah Ning, terima saja cinta Bima. Nanti biar aku dan Wati yang akan menyadarkan Noni. Ini demi kebaikan kalian berdua”

Perkataan Ana membuat hatiku sedikit lega. Tapi aku masih tidak yakin. Aku tidak ingin kehilangan salah satu dari mereka. Aku takut Noni tidak mau memaafkan aku dan aku juga takut Bima menjauhiku. Aku sangat sayang keduanya.

***

Seminggu sudah berlalu dari hari dimana aku diberi ceramah sama Ana dan Wati. Dalam waktu seminggu itu aku tidak berbuat apa- apa.

Hari itu sekolah mengadakan rapat untuk membahas pelaksanaan UAN ( Ujian Akhir Nasional ) bagi anak kelas tiga. Jadi hari itu tidak ada pelajaran tapi siswa tidak boleh pulang. Seperti biasa aku pergi ke Perpustakaan dan berharap ada Bima disana. Aku sangat rindu padanya. Berhari – hari dia mengabaikan aku.

Sesampainya disana aku tidak menemui Bima. Tapi aku tetap masuk saja untuk sekedar membaca buku. Tidak lama aku duduk, ada suara langkah kaki mendekatiku. Dan dia memengang pundakku kemudian duduk di sebelahku.

“Hai…Ning, maaf aku mengganggu”. Aku menoleh kearahnya.

“Hai …Non, kamu tidak menggangguku justru aku sangat bahagia kamu mau bicara lagi padaku”.

“Ning, aku kesini mau minta maaf sama kamu. Selama ini aku yang egois. Aku bertinggkah seperti anak kecil dan aku tidak pantas disebut sebagai sahabat. Karena aku sudah menyakitimu dengan menghalangi cintamu pada Bima. Untung Ana dan Wati segera menyadarkan aku.” Ucap Noni dengan penuh penyesalan.

“Sudahlah Non, aku sudah memaafkanmu dan aku tidak marah padamu”, kataku sambil memeluk Noni.

“Eh… aku punya kejutan, tapi kamu harus tutup mata dulu. Ok!!!”, kata Noni sambil melepaskan pelukanku.

“Apa?” tanyaku penasaran.

“Sudahlah kamu tunggu sebentar ya !”, kata Noni seraya meninggalkan aku.

Tidak lama kemudian ada seseorang memegang mataku dari belakang. Ternyata setelah kubuka tangannya , orang itu adalah Bima. Aku sangat terkejut hingga aku diam bagaikan patung. Dan Noni meraih tanganku kemudian menyatukannya dengan tangan Bima. Aku sangat bahagia. Aku peluk Noni dan tidak terasa air mataku menetes dipundak Noni begitu juga dengannya. Terdengar bisikan Noni yang mengatakan

“Aku adalah sahabatmu selamanya”.


CreaTed By JuLianT#yE