Gerbang itu masih terbuka dan hangat diterpa sinar ilmu pengetahuan yang memancar dari setiap jendela ruang kelasnya. Gerbang yang selalu ramah dan tersenyum pada siapa saja, baik lelaki maupun perempuan, dari segala suku, bangsa, agama, dan ras, yang diciptakan Sang Maha Pencipta di dunia ini. Mereka yang merasa masih harus banyak belajar sebagai manusia. Mereka yang ingin berbagi. Mereka yang melangkahkan kaki masuk melalui gerbang ini. Memasuki Sekolah Kehidupan; sekolah tanpa batas. Gerbang yang sama itu pula yang menyambutku tiga tahun yang lalu. Percayalah, memasuki sekolah ini, kau takkan pernah tahu apa yang akan kau alami. Dan yang pasti, kau takkan pernah sama lagi.
Bahasa
Aku sangat menyukai puisi dan sastra, jadi dugaanmu tepat. Ruang kelas pertama yang kumasuki adalah kelas bahasa. Di sana aku bertemu dengan mereka yang kini menjadi sahabat-sahabatku. Mbak Rinurbad yang rajin menuliskan resensi buku setiap minggu, Mbak Retno yang gemar menulis puisi dan cerpen surealis, Kang Dani yang sering bolos dari kelas Catcil hanya untuk menuliskan sebait dua bait puisi untuk kami, Mbak Sinta yang ceria dan selalu berpikir positif, Mbak Indar yang selalu kukagumi karena cerpen-cerpennya yang sarat budaya lokal, Mbak Novi yang kadang-kadang mampir di kelas ini untuk sekadar mengungkapkan pikiran dan impiannya, Mbak Divin yang bersemangat mengalirkan puisi-puisinya yang bertenaga, Kang Arrizki Abidin yang pendiam namun ternyata ia pintar bermain gitar dan menggubah puisiku menjadi sebuah lagu, Mbak Nia yang pintar main biola dan sesekali mampir ke kelas ini untuk mengungkapkan asa, Mas Fiyan Arjun yang mengaku masih belajar menulis puisi dan sesekali menuliskan cerpen-cerpennya di kelas.
Tak ketinggalan Kang Jun An Nizami yang juga suka menyendiri namun karya-karyanya sering membuat orang terpukau, Bunda Icha yang sesekali bolos dari kelas Catcil untuk menuliskan cerpen-cerpennya. Mereka adalah sahabat-sahabat yang pertama kali kutemui. Kini, setelah tiga tahun berlalu, kelas bahasa kian ramai dihuni oleh murid-murid baru. Inilah kelas di mana aku banyak belajar. Kelas di mana aku sering duduk di tepi jendelanya sambil merangkai puisi dan cinta yang bertaburan di dalamnya.
Inspirasi dan Motivasi
Adalah Pak Sinang Bulawan, pendiri Sekolah Kehidupan yang pertama kali mengelola kelas ini bersama-sama dengan Pak Teha. Orang tua yang bijak pada siapa aku banyak berkaca melalui tulisan-tulisannya. Aku banyak menemukan pencerahan pada tulisan-tulisan mereka. Juga Mas Adjie, yang juga seorang trainer dan motivator, lalu ada Mbak Jenny Jusuf yang selalu mengatakan padaku untuk “rock your life!”, Mas Nursalam kepala sekolah yang pertama, Kang Dikdik yang pendiam namun tulisan-tulisannya sungguh bernas, hingga murid-murid yang baru seperti Pak Agus Syafii yang rajin membagi pengalamannya nyaris tiap hari. Tak ketinggalan seorang guru sekaligus murid dari Bandung yaitu Kang Hadian, yang karena kekocakannya, jarang ada yang menyangka bahwa beliau adalah seorang trainer dan motivator yang handal. Di kelas inilah, aku bertumbuh menjadi dewasa setiap harinya, menjadi bijak, dan banyak memengaruhi cara berpikir dan bertindak. Karena cinta yang bertebaran di mana-mana selalu memberi kesempatan.
Catcil dan Ruang Kantor
Kelas ini paling banyak dihuni oleh murid-murid Sekolah Kehidupan. Kang Dani, kepala sekolah periode ini dan istrinya Mbak Endah sering bercerita mengenai putra mereka yang tampan, Mbak Syasya, Mbak Indar, Mbak Anty, Mas Fiyan, juga sering berbagi di kelas ini. Tak ketinggalan Mbak Novi, Mbak Nia, Kang Galih, Mbak Ugik, Mbak Sinta juga sering berbagi pengalaman di kelas ini. Aku teringat pada Kang Taufiq, Mbak Asma, dan Mas Catur yang dulu bermukim di Bogor dan sering berbagi mengenai pengalaman hidup masing-masing. Juga Mbak Fety, Mbak Dyah Zakiaty, Mbak Sisca Lahur yang jago memotret, serta Mbak Wiwiek yang gemar mendaki gunung. Semuanya tumpah ruah saling berbagi di kelas ini.
Inilah kelas yang tak pernah sepi. Kelas yang selalu hidup oleh nuansa cinta dan persaudaraan yang kental. Di kelas inilah aku juga mengenal Mas Andri, Mas Aris El Durra, dan juga Udo Yamin. Ada juga Mas Margo yang dulu kadang berbagi di kelas Motivasi dan Inspirasi. Di kelas inilah, kami menjadi sahabat yang saling membantu satu sama lain, suka dan duka adalah cinta bagi kami.
Ruang Musik
Setiap akhir pekan, aku berusaha menyempatkan diri ke kelas ini. Musik yang sudah menjadi bagian dari jiwaku. Di kelas ini aku sering bertemu Mbak Nia dan juga Mbak Retno yang sering menuliskan lirik-lirik lagu penuh makna. Musik yang mengalun penuh cinta memenuhi seantero Sekolah Kehidupan.
Lonceng dan Etalase
Kedua ruang ini merupakan ruang kelas yang paling dinanti oleh setiap murid. Di kelas Lonceng, kami biasa mengabarkan keajaiban-keajaiban hidup yang kami alami. Mulai dari pernikahan, kelahiran, kematian, hingga buku-buku baru karya murid-murid Sekolah Kehidupan yang lahir di kelas Etalase. Kedua kelas inilah cermin keberhasilan dari kelas-kelas yang kami ikuti. Bagiku, kedua kelas ini merupakan tempat berbagi doa dan syukur.
Sudut Lapangan Sekolah Kehidupan
Walau masih banyak ruang kelas di sekolah ini yang belum kumasuki, sesuatu akan terasa sangat berbeda bila kau berdiri di lapangan sekolah. Tempat segala ruang kelas terlihat dengan segenap aktifitasnya. Masih banyak teman-teman baru yang hanya duduk di sudut atau berdiam diri menonton kegiatan-kegiatan sekolah. Teman-teman yang begitu rendah hatinya sehingga tidak mau disebutkan namanya. Dari merekalah aku belajar untuk berkontribusi dan membantu tanpa pamrih, tanpa perlu menjadi terkenal. Salam dan hormatku untuk mereka semua.
Dan sekolah ini, tempat kita menuntut ilmu selama hayat dikandung badan, masih menemani setiap pagi, siang, dan malam seluruh murid-muridnya, takkan pernah kehabisan cerita untuk dikisahkan dan takkan pernah kehabisan tinta untuk dituliskan. Karena selama hidup masih terus ada, sekolah kehidupanpun tetap terus berlangsung. Dan di bawah tatapan Sang Maha Cinta, bagiku, hidup takkan pernah sama lagi.
WeTzzzzzzzTz
Tidak ada komentar:
Posting Komentar